Not all scars show, not all wounds heal. Sometimes you can't always see, the pain someone feels

- -

Sunday, March 25, 2012

Junk File #10

Udah lama ga nulis tulisan sampah, haha ga ngerti juga bahkan nyepi udah lewat 2 hari masih kepikiran hal kayak gini, kali ini sampahnya adalah diri saya sendiri karena ga ngerti apa-apa tentang sesuatu yang seharusnya saya pahami 100%.

agama, saya sering sekali berfikir bahwa saya adalah salah satu umat yang sangat tidak taat, saya masih belum mengerti beberapa hal tentang agama saya sendiri, bahkan saya tidak yakin saya memahami 1/10 dari upacara Hindu yang termasuk  3 kerangka dasar selain tattwa dan susila..

*agama itu ga butuh logika, tapi entah kenapa saya sukar menerimanya, saya ingat waktu tingkat 2 di STAN saya disuruh menjadi pembicara di acara pesantian (seperti bimbingan rohani) di gedung D, dan sadar akan kemampuan saya, saya memilih menjadikannya sebagai ajang diskusi, dan materinyapun sangat amat sederhana, yaitu mengenai Tri Sandhya, dan saya mengajukan pertanyaan, kenapa bija diletakkan di dahi, tenggorokan dan ditelan? kenapa posisi tangan saat "asana" harus begitu, mungkin pertanyaan bodoh ya, tapi jawaban apa yang saya dapatkan? intinya jawaban yang saya khas bali banget yaitu "nak mule keto" dan ada yang berpendapat yang penting niatnya kita sudah baik, masalah tata cara itu ga masalah, nah, bagaimana saya bisa meresapi ibadah kalau saya ga ngerti apa makna dari melakukan semua itu? lalu kalau cukup dengan niat buat apa di Bali ngelaksanain upacara yang bahkan menghabiskan biaya yang tidak sedikit?

*agama itu sifatnya personal, saya mendapatkan kalimat ini dari blog yang mampu membuat saya berfikir ulang mengenai proses bhakti kepada Sanghyang Widhi dan esensi dari agama itu sendiri (saya lupa linknya nanti dicari lagi), agama adalah hubungan personal kita dengan Tuhan, seseorang ga bisa dan ga ada alat yang bisa ngukur seberapa besar rasa "bhakti" seseorang kepada Tuhannya, tapi kenyataannya, mindset kebanyakan orang itu mengukur tingkat keimanan seseorang dari kerajinannya melakukan ibadah, atau keseringannya mengunjungi tempat ibadahnya, ga salah memang, menjadikan itu sebagai patokan, tapi kesannya terlalu menilai dari "luar" ga sih? haha maksudnya mungkin dia rajin beribadah, tapi kalo tingkah lakunya ga bener gimana? dia sering ke pura tapi tujuan utamanya bukan untuk ibadah? atau dia rajin tri sandhya tapi kesehariannya mabuk-mabukan dan bertingkah laku tidak benar? masihkan dibilang berbakti?

daripada makin nyampah langsung penutup aja haha, kesannya mungkin saya mencari alasan atas kemalasan saya beribadah, haha saya ga perlu pembelaan, saya akui saya ini ga tau apa-apa soal agama, tapi kadang doktrin-doktrin tentang agama yang ga jelas maksudnya apa, atau persepsi umum masyarakat tentang agama itu bikin saya kesal sendiri,

ini agama saya, ini kepercayaan saya, ini cara saya menjalankan perintah agama saya, selama saya melakukan kewajiban beragama saya dan selama saya menahan diri dari larangan-larangan yang ada fine-fine aja kan? kalau memang saya menyalahi ajaran agama saya tolong dinasehati dengan benar, jangan dengan doktrin-doktrin yang ga jelas asalnya darimana, dan biarkan saya membangun hubungan personal dengan Tuhan saya dengan cara saya sendiri karena beragama dan menjalankan ibadah itu hak asasi setiap manusia kan? udah diatu di UUD 45 juga kan? haha.

"God has no religion"
- Mahatma Gandhi -

0 comments:

Post a Comment