Not all scars show, not all wounds heal. Sometimes you can't always see, the pain someone feels

- -

Saturday, July 14, 2012

Human Nature #5 : Self-Prioritization

"Not everything is about you" Clary said furiously.
"Possibly," Jace said. "but you do have to admit that the majority of things are"
Pernahkah kalian dihadapkan kepada situasi dimana kalian harus memilih satu dari dua opsi, yang mana opsi yang satu nantinya akan menguntungkan kalian, dan opsi yang lain akan mengakibatkan hal yang sebaliknya?

Nah, opsi yang manakah yang akan kalian pilih? lalu bayangkan kau dan seorang temanmu sedang berjalan di sebuah hutan dan tiba-tiba seekor beruang muncul, dan di dekat tempat kalian berdiri hanya ada sebuah pohon yang hanya bisa dipanjat oleh satu orang saja, apakah kalian akan berebut untuk memanjat pohon itu?

Egoisme adalah sifat dasar manusia, err, mungkin frasa self-priority memberikan konotasi yang lebih positif, sebab egois itu identik dengan hal yang buruk, padahal saya mengakui bahwa manusia tanpa ego adalah bukan manusia, dan sudah menjadi sifat alami manusia untuk lebih mendahulukan kepentingan dirinya daripada kepentingan orang lain, ingat peribahasa "berat sama dipikul, ringan sama dijinjing?" pada prakteknya peribahasa itu berubah menjadi "ringan sama dijinjing, berat lu pikul aja sendiri!!" hahaha.

Bukankah begitu? saya rasa tak sedikit dari kita yang mengalaminya, begitu kita sedang dilimpahkan rezeki yang banyak, berbondong-bondong orang tiba-tiba merasa memiliki hubungan yang akrab dengan kita, tapi begitu kita mengalami musibah, jumlah orang-orang yang merasa dekat dengan kita itu, tiba-tiba berkurang. Contoh simpel aja lah, di kantor, misalnya, ada suatu kesalahan Nota Dinas atau Surat yang berasal dari subdit yang bersangkutan, dan kebetulan yang memeriksa tidak tahu siapa yang merancang ND atau surat itu, dan percakapan inilah yang biasanya terjadi.

A : Ini, suratnya dikembalikan ke TU nih, kok alamatnya bisa keliru kayak gini sih?
B : Oh iya ya mas? mana si kuliat!
C : Itu surat yang kemana mas? (sambil menghampiri B yang megang surat tsb)
B : Oh ini bukan aku yang bikin mas..
C : Iya nih, bukan saya juga yang bikin, apa kamu yang bikin ya D?
D : Mana? (setelah memeriksa) kayaknya bukan aku juga yang bikin, siapa yah?
C : Oh pasti yang lagi "berangkat" sekarang nih yang bikin nih..
A : Nanti, tolong kasi tau aja ya, segera direvisi sebelum telat!

Sekilas mungkin ga ada yang aneh dari percakapan sehari-hari di kantor tersebut, tapi saya ngerasa sedikit "aneh" aja, begitu suatu subdit mengalami masalah (dalam kasus diatas alamat surat yang salah) hal pertama yang dilakukan oleh orang-orang di subdit itu adalah memastikan bahwa bukan merekalah yang membuat kesalahan itu. Kalimat kayak "bukan aku yang bikin" atau "Ini pasti salah satu dari 'mereka' yang bikin" bagi saya terkesan suatu pernyataan yang diungkapkan untuk "memproteksi" diri sendiri.

Lalu salahkah? ya nggak lah, sekali lagi itu manusiawi, saya juga masih sering berbuat kayak gitu, misalnya saja tiba-tiba tercium bau kentut di ruangan, mau ga mau kalimat "Bukan Aku" bakalan saya gunakan untuk melindungi diri saya dari perbuatan "salah" yang tidak saya lakukan, itu hanya salah satu insting manusia aja buat melindungi dirinya sendiri, bahkan di mata hukumpun hal itu tidak dianggap salah.

Pernahkan kalian mendengar kisah tentang "Papan Karnaedis"?, ceritanya mengisahkan tentang sebuah kapal yang kecelakaan dan tenggelam, dan papan-papan kayu yang menjadi muatan kapal itu berserakan di lautan, otomatis, membuat orang-orang yang tidak kebagian "sekoci" berebut untuk meraih kayu-kayu tersebut sebagai sarana untuk mengapung di lautan yang luas demi menyelamatkan diri mereka masing-masing, nah diceritakan ada seseorang yang berhasi meraih sebuah papan kayu tersebut dan terus bepegangan di papan itu sembari menunggu bantuan datang, tiba-tiba seseorang lainnya datang dan ikut berpegangan pada papan kayu yang sama, yang sayangnya, papan kayu itu hanya kuat menahan bobot satu orang saja. Nah jika kalian berada di posisi orang yang pertama kali meraih papan itu, apa yang akan kalian lakukan? apakah kalian akan menepis tangan orang tersebut, dan mencegahnya untuk berpegangan pada papan yang sama sehingga dapat dipastikan kalian selamat dan orang itu tewas? atau kalian membiarkannya ikut berpegangan yang ujung-ujungnya justru akan membuat kalian dan orang itu sama-sama tenggelam akhirnya? atau bahkan kalian terlalu baik, dan memutuskan untuk mengalah, dan membiarkan orang tersebut yang memegang papan itu? (kayak kisah Titanic).

Barusan ini saya menemukan frasa bagus, yang saya baru tahu ternyata itu judul album ketiganya "Bring Me the Horizon", dimana frasa itu berbunyi. "There is a Hell Believe Me I've Seen It. There is a Heaven, Let's Keep It a Secret". Frasa ini cukup menggambarkan sifat manusia, dimana ketika mereka menemukan hal-hal yang buruk, mereka akan "membagi" nya dengan orang lain sehingga mereka merasa lebih lega karena tidak harus "menghadapinya" sendirian, namun begitu mereka menemukan suatu yang bagus atau "menguntungkan", mereka akan cenderung berusaha agar hanya mereka yang "menikmati" berita bagus tersebut.

Yah begitulah kita selama ini bertindak sebagai manusia, jadi jangan berharap orang lain bakal ada disaat kita sedang "susah" kalau di lain sisipun kita ga pernah ada disaat mereka susah, atau jangan pernah berharap seseorang akan "membagi" rezekinya ketika kita sendiri ga pernah mau berbagi rezeki yang kita dapatkan dengan orang lain. It is really that simple, isn't it? the difference between selfish and selfless is really that "slim"...

"You never really learn much from hearing yourself speak"
- George Clooney -

0 comments:

Post a Comment