Not all scars show, not all wounds heal. Sometimes you can't always see, the pain someone feels

- -

Thursday, March 10, 2011

Nyepi

Tanggal 5 Maret 2011 bertepatan dengan tahun baru saka 1933, adalah saat perayaan Nyepi bagi umat Hindu, dan ini adalah nyepi pertama yang mesti saya jalani sendirian di Jakarta haha, sebenarnya beberapa teman-teman KMHB mengajak saya untuk melakukan brata penyepian bersama-sama di pura Aditya Jaya Rawamangun, tetapi saya menolak ajakan tersebut karena saya merasa saya akan lebih kuat melakukannya bila sendirian.

Nyepi adalah salah satu hari raya besar yang dilaksanakan oleh kami umat Hindu, sepengetahuan saya ada 4 prosesi dasar di dalam pelaksanaan Nyepi, yang pertama adalah Mekiyis yang berarti upacara peleburan dosa/noda, kemudian Mecaru yang bertujuan untuk membersihkan alam lingkungan, ketiga adalah Brata Penyepian, proses perenungan dalam pencarian hakikat diri kita sebagai makhluk Tuhan, dna yang terakhir adalah Ngembak Ghni, atau Dharmasanthi sebagai wujud rasa damai di dunia.

di Bali, nyepi sangat identik dengan yang namanya "Ogoh-Ogoh" yaitu suatu gambaran sifat buruk yang harus dimusnahkan dari diri kita, dan biasanya gambaran ini dituangkan dengan membuat suatu patung raksasa dengan berbagai macam bentuknya, seperti dibawah ini :






bahkan ogoh-ogoh ini biasanya dilombakan, dan juaranya ditentukan dari bagusnya patung yang dibuat, seberapa seni arak-arakan nya, dan juga seberapa indah gamelan yang mengiringinya. Ogoh-ogoh menurut saya sendiri memiliki nilai seni dan budaya yang tinggi, ogoh-ogoh dapat dijadikan tolak ukur seberapa kuat ikatan kekeluargaan suatu banjar serta melestarikan budaya khas Bali, disamping itu ogoh-ogoh menjadi suatu tontonan yang menarik bagi masyarakat disekitarnya ya walaupun tak dapat dipungkiri biaya yang dikeluarkan juga besar..

Nyepi itu sendiri menurut saya intinya adalah pelaksanaan Catur Brata Penyepian, yang mana disaat nyepi kita diharuskan mampu untuk mengendalikan panca indera kita dari godaan-godaan duniawi dan sejenak berpikir dan merenung sebenarnya kita diciptakan oleh Sanghyang Widhi di dunia ini untuk apa,,. saya baru 3 kali melaksanakan brata penyepian di Bali, dan sisanya saya lakukan di luar Bali, ada perbedaan mendasar dari mainset Hindu Bali, dan non-Bali yang saya rasakan, tanpa bermaksud mendiskreditkan daerah saya sendiri, saya berpendapat, masyarakat Hindu di Bali tidak terlalu serius dalam melaksanakan brata penyepian, mereka masih melakukan kegiatan, mereka masih menikmati hiburan, bahkan yang saya tahu beberapa keluarga justru menyajikan makanan yang "mewah" dan "melimpah" saat perayaan brata tersebut, dan di sana hal ini dianggap cukup wajar sebab banyak yang melakukan hal yang sama. Mungkin memang orang luar melihatnya khidmat, tentu saja sebab listrik dimatikan, bandara dinon-aktifkan, dan pecalang berkeliaran di luar rumah untuk menjaga jika ada yang berani keluar rumah saat nyepi berlangsung, jadi ada kesan "terpaksa" yang saya rasakan jika kita melakukan brata penyepian di Bali, (walaupun saya sebenarnya pro dengan "pemaksaan" ini) berbeda dengan sewaktu saya di Padang, mereka (umat Hindu) saya lihat berpuasa, menyanyikan puja-puji, membaca buku-buku agama dan sesekali berbincang saat nyepi, walaupun saat itu saya hanya tidur, dan membaca hehe, sekali lagi saya tidak bermaksud merendahkan, mungkin ada sebaiknya kita renungkan bersama2 hal ini (:.

Saya sendiri hanya sanggup bertahan sampai jam 12 malam saat itu, sebab gelap di kamar dan perut ini sudah keroncongan, walaupun saya akui sebenarnya keinginan untuk membuka laptop lah yang menjadi faktor utama gagalnya brata saya hehe, yah setidaknya saya berharap apa yang saya lakukan saat itu dapat membuat saya menjadi manusia yang lebih baik kedepannya, Astungkara :)




there are four kinds of good people who worship god, those who desire earthly gains, those who are suffering, those who seek knowledge and those who possess wisdom.

-Bhagavadgita-

0 comments:

Post a Comment