Not all scars show, not all wounds heal. Sometimes you can't always see, the pain someone feels

- -

Sunday, December 16, 2012

Revelation


Labil banget ga sih  kesannya, ketika saya udah bilang mw conceal ini blog, tapi tiba-tiba di “reveal” lagi? Haha, jujur aja saya sebenarnya pengen banget cerita, apa aja yang saya alami dari hal-hal yang menyenangkan sampai yang ngeselin sekalipun, tapi lagi-lagi saya bingung mw cerita ke siapa, haha akhirnya malah curhat di Twitter n Facebook, haha jadi saya memutuskan untuk aktif lagi menulis di blog ini, karena mungkin ini ya satu-satunya media media tempat dimana saya bisa berbagi hal-hal yang saya segan untuk bagikan secara lisan haha, just dont criticize what I write, dont take my writings too seriously, I am just write what I wanted to write, and please do not judge an author by its writings haha

Sunday, October 28, 2012

University of Indonesia


Universitas Indonesia, saya masih ga nyangka aja saya bisa kuliah di kampus ini haha, sekarang udah memasuki masa UTS yang artinya sudah kurang lebih 2 bulan saya belajar di kampus tersebut, banyak sekali hal-hal yang baru dan berbeda yang saya dapatkan semenjak kuliah disini, walaupun ad beberapa hal yang lumayan mirip dengan di STAN dulu, mau gimana lagi hampir setengahnya anak-anak STAN juga isinya hahaha.


Dosen
Ada kecenderungan dosen-dosen di UI cenderung lebih “semangat” dalam mengajar dibandingkan dosen STAN, secara rata-rata loh ya, karena ga semua dosen UI itu semangat dan ga semua dosen STAN itu ga semangat, mungkin karena faktor penghasilannya kali ya, tau lah gaji widyaiswara di STAN berapa, dan motivasi yang diberikan dosen-dosen di UI ama di STAN pun berbeda, kalo di STAN kita cenderung di semangati untuk menjadi abdi-negara yang jujur, yang berbakti kepada negara, sedangkan kalo di UI ada dosen yang memberikan motivasi untuk bekerja di perusahaan multi-nasional, dan ada pula dosen yang secara implisit tidak menyukai pekerjaan sebagai PNS, dan meng-encourage mahasiswanya untuk menjadi seorang wiraswasta, yah minimal seorang pegawai dengan sumber penghasilan lebih dari satu, yah intinya kembali ke diri masing-masing iya gak? Pengen jadi apa ntar. Oh ya dosen di UI cenderung lebih menyukai tipe pembelajaran dimana mahasiswa yang cenderung lebih aktif, seperti presentasi lah, bikin paper lah, tanya jawab, dibanding pembelajaran yang cenderung text-book.

Mahasiswa/Mahasiswi
Pertama, jauh lebih modis lah haha jelas, soalnya beberapa punya latar belakang kemampuan finansial diatas rata-rata, beberapa lagi malahan udah ada yang kerja di MNC atau di beberapa perusahaan terkemuka di Indonesia. Kedua, jauh lebih gaul, dalama rtian positif ya, mereka lebih positive-minded mereka ga ragu-ragu ngasi semangat ke kelompok yang mau presentasi di minggu depan, lebih gimana gitu ya, lebih open orang-orangnya, kalo kayak perbandingan negara itu, mereka kayak negara-negara yang udah siap buat ngejalanin free-trade ama globalisasi haha, ini salah satu contoh yang patut ditiru. Walaupun kalo saya seobjektif mungkin menilai anak STAN itu masih jauh lebih pintar dari mereka, baik dalam materi yang dipelajari maupun dalam perkembangan berita dan wawasan secara umum, namun karena kemampuan anak STAN dalam menyampaikan apa yang mereka (cieileh mereka padahal saya juga anak STAN haha) ketahui tidak sebagus mahasiswa yang bukan lulusan STAN, jadi secara sekilas orang bakalan lebih cenderung tertarik dengan yang “tampilan” nya bagus hahaha.

Lain-Lain
Pertama soal UTS nya ga ada pilihan gandanya -_-“ haha ya iyalah kampus mana yang masi ngasi pertanyaan pilihan ganda, dan UI telah mengubah cara pandang saya terhadap soal pilihan ganda dan essay, dulu saya suka banget yang namanya soal pilihan ganda, benar ya benar, salah ya salah, selain itu jawabannya bisa dianalisis, maksudnya opsi pilihannya bisa di eliminir satu demi satu, jadi kalaupun ga tau a, b, c, atau d bukan berarti chance benarnya jadi 25% tapi bisa di maksimalin jadi 33% atau 50% setelah opsi pilihannya di-screening satu demi satu, (ciee yang make istilah “screening” berasa saham haha), terus dulu saya berpandangan essay itu menguntungkan orang-orang yang jago ngarang, yang ngapal-bility nya imba, ama orang yang tulisannya gede (soalnya bisa nambah kertas – efek psywar #1 :p), tapi sekarang berubah setelah negara api menyerang, err maksudnya setelah nguli di UI haha, essay terutama yang modelnya kasus itu emang lebih banyak sisi positifnya, selain benar-benar bisa mastiin mahasiswa mana yang benar-benar menjelaskan dengan landasan teori yang kuat atau mahasiswa yang hanya cuap-cuap atau malah curhat sampai nambah kertas hahaha, selain itu soal bertipe essay juga mengasah analisa mahasiswa dan kemampuan mahasiswa berfikir out-of-the-box mencari hubungan antara kasus dan teori yang ada. Kedua, dan lagi, UI memberikan faktor “biaya-mahal” nya yang membuat entah kenapa saya lebih serius kuliah disana, saya ngerasa walaupun waktu buat belajarnya sangat teramat jauh berkurang daripada semasa di STAN dulu, tapi so-far lebih berkesan aja gitu haha khususnya makroekonomi, berkesan gimana gitu, ampe bela-belain browing kesana-kemari berbagai macam data statistik ama berita-berita tentang topik paper individunya, tapi perasaan bisa nyelesainnya itu puas banget haha.

Nah, tapi rasa “memiliki” saya masih jauh lebih besar di STAN, ya iyalah haha, dan berita tentang D4 baru-baru ini sedikit banyak membuat “galau” tapi gimana, udah bayar banyak haha (tetep masih ga ikhlas haha), GO STAN GO UI!! :D

"Veritas, Probitas, Justitia"
- University of Indonesia's Motto -

Junk File #16


When someone sees the same person everyday, as had happened with him at seminary, they wind up becoming a part of that person's life. And they want the person to change. If someone isn't what others want them to be, the others become angry. Everyone seems to have a clear idea of how other people should lead their lives, but none about his/her own
Saya ga ngerti kenapa saya terkadang ngerasa susah sendiri, berfikir keras untuk sesuatu yang sebenarnya bukan urusan atau masalah saya, ngerasa repot sendiri untuk kebutuhan yang sebetulnya bukan kepentingan saya, atau bahkan sampai ngepost postingan ini yang trigger  nya pun bukan berasal dari apa yang saya alami.

Seperti yang sempat saya bilang di postingan yang sebelumnya, kalo ternyata apa yang dikatakan orang-orang bijak selama ini benar, kalo berusaha untuk menerima kekurangan orang lain itu dalam prakteknya jauh lebih susah dari teorinya, memang kesannya saya ngejudge kali ya, bilang sifat orang lain itu jelek, kayak sifat saya udah bener aja haha, tapi mau ga mau ini jadi konflik internal saya sendiri, soalnya saya bukan tipe yang frontal, saya bukan tipe yang bakalan bilang : “eh, lu gitu banget jadi orang!” atau “X, tolong lain kali jangan gitu dong” yah kalimat-kalimat semacam itulah, *sigh haha, apa karena saya juga bukan tipe yang senang ditegur frontal kayak gitu juga kali ya? Haha soalnya banyak yang bilang caramu memperlakukan orang lain mencerminkan bagaimana caramu memperlakukan dirimu sendiri, ciee hahaha.

Ada beberapa hal lain yang membuat saya cenderung untuk enggan menegur seseorang, kita tau lah ya semua orang itu punya masa lalu mereka sendiri-sendiri, beberapa orang seolah ga peduli dengan apa yang terjadi di masa lalunya, namun ga sedikit yang masih begitu terpengaruhnya dengan kondisi mereka di masa lalu, kadang kita senang menjadikan masa lalu sebagai justifikasi atas ketidakmampuan kita di masa ini, atau ada kejadian buruk di masa lampau yang masih membekas sampai saat ini, yang mau ga mau mempengaruhi cara seseorang memandang sesuatu, lagi-lagi saya ga bisa nyalahin, masalahnya saya sendiri pun ga pernah ngalamin hal yang sampai membuat saya trauma sebegitu hebatnya terhadap suatu hal, terus lagi seperti yang pernah saya bilang, mungkin yang aneh menurut kita itu ga aneh kalo diliat dari sudut pandang mereka we just don’t know what they think and how they feel about something hahaha.

Kayaknya emang ga penting banget ya nih postingan, tapi buat saya ini penting banget soalnya it happens to those who I admire, to those who already give their invaluable insight about this life, to those who teach me so many things about what should I do and what I shouldn't do, haha andaikan hal-hal kayak gini ada aturannya ya, jadi saya ga usah repot-repot mikir masalah etika atau apalah, sebab hidup ini lagi-lagi terlalu relatif, apa yang kita anggap benar belum tentu benar bagi orang lain kan? :)

"There were two ways to be happy : improve your reality, or lower your expectations"
- Jodi Picoult, Nineteen Minutes -

Saturday, October 27, 2012

Human Nature #7 : Envy

Envy, like the worm, never runs but to the fairest fruit; like a cunning bloodhound, it singles out the fattest deer in the flock


Envy - A feeling of discontented or resentful longing aroused by someone else's possessions, qualities, or luck.

Salah satu sifat buruk yang mendasar adalah rasa iri, ga bisa kita pungkiri kita pasti pernah di suatu saat merasa iri dengan apapun yang dimiliki oleh orang lain, mungkin harta merekalah, atau kekuatan mereka, paras mereka, dan yang paling mendasar kebahagiaan mereka.

Belakangan saya gampang sekali ngerasa iri ama temen-temen di sekitar saya, iri ketika mereka mendapatkan apa yang tidak saya dapatkan, iri ketika melihat mereka melewati apa yang tidak bisa saya lewati, iri saat melihat mereka bisa melakukan apa yang tidak bisa saya lakukan, dan yang paling parah itu saya bahkan iri dan sampai kesal ketika melihat teman saya sendiri sedang senang atau bahagia, haha parah ga tuh??

Tapi beneran ya ini jujur ada dua hal paling sulit yang belakangan saya rasakan, yang pertama adalah menerima kekurangan orang-orang yang dekat dengan saya, dan yang kedua adalah secara tulus ikut senang ketika orang-orang disekitar saya mendapatkan hal-hal yang bagus hahaha, emang ga semua hal-hal baik yang mereka dapatkan membuat saya iri, tapi ketika hal-hal itu ada sangkut pautnya dengan saya, nah baru! haha.

Kata orang-orang sih iri itu awal mula dari segala macam ketidakbahagiaan, di Hindu sendiri iri itu termasuk satu dari enam jenis keburukan umum yang dimiliki oleh manusia, memang ga semua rasa iri itu mendatangkan hal yang buruk, kadang rasa iri itu bagi sebagian orang justru menjadi motivasi bagi mereka untuk meraih apa yang orang lain bisa dapatkan, namun kebanyakan dari kita ujung-ujungnya akan mendapatkan sesuatu yang lebih buruk dari rasa iri tersebut.

Bukankah rumput tetangga bakalan selalu terliht lebih hijau? kalau kita terus memperhatiak halaman tetangga kita, kapan kita akan memperhatikan punya kita sendiri? Memang rasa iri sebenarnya bentuk jelmaan akan ketidak syukuran kita terhadap apa yang kita dapatkan, kita sibuk menghitung, melihat, dan memperhatikan setiap anugrah yang diterima oleh orang lain, tetapi lupa menghitung semua hal baik yang pernah kita dapatkan haha

Yah, saya sendiri masih belajar untuk lebih bersyukur supaya ga selalu iri ketika teman saya "memperoleh" sesuatu, apa saya terlalu berlebihan kali ya? haha hal-hal sepele kayak gini aja ampe dibikin tulisan kayak gini hehe.. :)

"Envy is the art of counting the other fellow's blessings instead of your own"
- Harold Coffin -

Human Nature #6 : Attention

"Everytime I've done this, somewhere inside me have thought. 'It's bad to be desperate for attention' And somewhere underneath that, 'I hate that I've been desperate for attention'."
Detik ini saya sedang berfikir, did I draw too much attention?. Lagi-lagi ini tentang pikiran saya sendiri, memang saya akui, saya ingin sekali rasanya menceritakan unek-unek saya ini kepada seseorang, siapa saja secara lisan, tapi pada akhirnya saya urung melakukan hal itu, dan jadi lah saya hanya bisa menumpahkannya di tempat ini.

Semua orang ingin diperhatikan, iya gak? hal yang manusiawi memang ketika beberapa orang mulai merasa kesepian, sebab mereka merasa mereka tidak diperhatikan oleh siapapun, dan terkadang untuk mengatasi rasa kesepian tersebut kita cenderung untuk menjadi "attention whore" ya istilah untuk seseorang yang hobinya adalah menjadi pusat perhatian kapanpun dan dimanapun dia berada,

Jujur, saya di suatu saat tertentu melakukan hal yang serupa, berusaha untuk diperhatikan, sebab saya iri dengan beberapa orang yang selalu menjadi "center of attention" namun, ternyata reaksi yang saya dapatkan melebihi apa yang saya inginkan, ujung-ujungnya orang-orang menjadi terlalu kepo untuk mengetahui informasi sedetail mungkin tentang apa saja yang saya lakukan, dan ternyata menjadi pusat perhatian itu ga lebih baik dari dicuekin, ternyata ga nyaman banget di posisi dimana banyak sekali orang-orang yang ingin tahu masalah yang sebenarnya saya sendiri tidak mau berbagi kepada siapapun, haha.

Namun, mungkin ga semua orang sama, saya mungkin ga suka dengan perhatian yang berlebihan, tapi mungkin beberapa orang sangat menyenangi diperhatikan seperti itu, menikmati setiap penggalan ke-kepoan teman-temannya, bahkan justru bangga dengan hal-hal itu, yah namanya juga manusia semua tentu punya preferensi yang berbeda, mungkin ini hanya masalah letak garis batas yang memisahkan antara urusan pribadi dan sosial.

Dan mungkin inilah alasan kenapa saya masih jomblo, haha saya bukan tipe yang selalu nanyain "udah makan belum?" "sekarang lagi dimana?" "kamu lagi ngapain?" dan pertanyaan-pertanyaan bertipe kepo eh perhatian lainnya :p, sebab saya juga bukan tipe yang senang ditanyain hal begituan, yah buat membuka oborlan gapapa lah ya, cuma kesannya jadi basi ga sih? kalo tiap kali nelfon pertanyaannya kayak gitu? haha yoweslah,

"Life is a cycle, you go from being strangers, to being friends, to being more than friends,and back to being practically strangers again"
- Anonim -